Matabatin6869’s Blog

MEDIA MISTIK DAN BUDAYA

menelusuri misteri peninggalan bandung tempo dulu

Menelusuri Misteri Peninggalan Bandung Tempo Dulu (2)

Dari Situ Hiang dan Telaga Bandung

Siapa nyana bila Bandung yang saat ini tengah bersolek menuju kota metropolitan, dulunya merupakan kawasan yang sepi. Seorang Belanda bernama Juliaen de Silva, pada tahun 1641 mencatat dalam bahasa Belanda kuno, “Aen een negrije genaemt Bandong bestaende uijt 25 a 30 huysen.” (Ada sebuah negeri dinamakan Bandong yang terdiri atas 25 sampai 30 rumah). Bahkan jauh sebelum itu, di kawasan ini terdapat apa yang disebut Situ Hiang atau Danau Bandung Purba.

Juliane de Silva disinyalir sebagai orang asing pertama yang berkeliaran di wilayah Bandung. Dalam buku “Wajah Bandung Tempo Doeloe” tulisan almarhum Haryoto Kunto, kala itu, Bandung dikenal oleh pemerintah Kompeni Belanda dengan sebutan “negorij Bandong” atau “West Oedjoeng Broeng”. Sedangkan di kalangan penduduk pribumi, wilayah Bandung pada abad ke-17 sering disebut “Tatar Ukur”.

Salah seorang penguasa Tatar Ukur yang terkenal adalah Wangsanata atau Dipati Ukur. Tahun 1628, bersama Tumenggung Bahureksa, Dipati Ukur diserahi tugas oleh Sultan Agung Mataram, untuk menggempur benteng Kompeni Belanda di Jakarta. Karena peristiwa itulah, penguasa Kompeni Belanda di Batawi yang semula kurang begitu memperhatikan Tatar Ukur, mulai menaruh curiga.

Kala itu, pihak penjajah Belanda di Jakarta masih menganggap Bandung sebagai “terra incognita” (daerah tak bertuan). Dan sejak kedatangan de Silva di tahun 1641 itu, secara berkala “Kasteel van Batavia” (Benteng Kompeni) mengirim spionnya ke Tatar Ukur buat “ngintip” kalau ada tindakan subversib terhadap Kompeni. Waktu itu Belanda masih belum tangguh, sehingga mereka belum mampu menempatkan tentaranya di Tatar Bandung.

Sebagai daerah tak bertuan, Bandung kala itu sering dipakai pihak kompeni Belanda sebagai daerah buangan atau pengasingan atas serdadu mereka yang tidak disiplin. Memang, sebagian kawasan Tatar Bandung pada peretengahan abad ke-18 masih berupa hutan rimba, alas gung liwang liwung. Orang Sunda menyebutnya “top badak top maung”, atau “jalmo moro jalmo mati”.

Danau purba

Membicarakan Bandung tempo dulu, pasti tak bisa lepas dari tapak legenda Situ Hiang atau Danau Bandung. Kala itu air danau Bandung masih menggenangi beberapa tempat di Tatar Bandung yang merupakan danau-danau kecil. Itulah sisa-sisa peninggalan dari apa yang pada jaman dulu disebut dengan danau purba. Bukti-bukti danau purba ini tampak jelas bila melihat Bandung dari ketinggian. Kota Bandung tampak bagaikan mangkuk raksasa yang dikelilingi oleh gunung-gunung.

Berjuta tahun lalu, tulis almarhum Haryoto Kunto dalam buku “Semerbak Bunga di Bandung Raya”, dataran tinggi Bandung pernah dibenam lautan air. Peristiwa itu terjadi pada jaman Miosen, 15 juta tahun silam. Sebenarnya, bukan hanya dataran tinggi Bandung yang berada di bawah permukaan laut, bahkan tanah Jawa pun pada umumnya masih dibenam lautan. Sebagai bukti adalah dengan ditemukannya terumbu binatang koral, binatang bersel satu dan ganggang laut di Padalarang. Serta fosil ikan di Purwakarta.

Kapankah Situ Hiang alias Danau Bandung Purba yang legendaries itu terbentuk ? Sejarah geologi mencatat, Gunung Tangkubanparahu pernah mengalami tiga kali erupsi besar, disertai muntahan abu dan lava. Pada erupsi besar kedua (fase B) kurang lebih 6000 thaun lalu, kegiatan vulkaniknya berlangsung sangat dahsyat. Daerah yang dilanda material tersebar di sebelah barat Ciumbuleuit (utara Bandung) dan sebagaian memblokir alur Sungai Citarum yang dulu mengalir lewat lembah Sungai Cimeta, yang terletak di utara Padalarang sekarang. Akibat terbendungnya Sungai Citarum Purba, maka terbentuklah Telaga Bandung yang sering disebut oleh orang jaman dulu dengan “Situ Hiang”.

Para geologiawan sependapat, tatkala peristiwa bencana ledakan Gunung Parahu yang dahsyat terjadi, rupanya disaksikan oleh manusia purba, penghuni Dataran Tinggi Bandung. Dapat dibayangkan betapa panic dan takutnya manusia-manusia purba itu, menyaksikan petaka alam yang dalam sekejap merubah wajah bumi di sekelilingnya.

Suatu survai geologis tahun 1982, memetakan penyebaran endapan Gunugn Tangkubanparahu. Laporan itu mengungkapkan bahwa lahar Tangkubanparahu sebarannya sangat luas. Di bagian timur mulai dari selatan LEmbang, Dago sampai Bandung Timur (Sukaluyu). Sedangkan di barat sampai di selatan Cimahi dan Padalarang.

Aliran Lumpur yang datang dari GunuNg Tangkubanparahu itu terjadi dari bahan halus bercampur air. Karena setelah letusan biasanya jatuh hujan. Tidak mustahil kejadian itu berlangsung sangat cepat. Mungkin dalam satu malam saja bahan yang mencapai jutaan meter kubik itu bergerak kea rah Sungai Citarum (purba). Karena pembendungan itulah maka kemudian terbentuk suatu danau yang luas, yakni Telaga Bandung atau Danau Bandung.

Luas Danau Bandung purba atau Situ Hiang memang sulit ditentukan karena bentuk tepiannya tidak beraturan. Namun beberapa pendapat luas danau ini membentang dari Cicalengka di timur sampai Padalarang di barat sejauh 50 km. dari Bukit Dago di utara sampai ke batas Soreang – Ciwidey di selatan, berjarak 30 km. Maka bila dibandingkan luas Danau Bandung diperkirakan hampir tiga kali luas DKI Jakarta. Suatu wilayah yang dikemudian hari menjadi daerah kawasan “Bandung Raya”. (bersambung) bembi

Januari 15, 2009 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: