Matabatin6869’s Blog

MEDIA MISTIK DAN BUDAYA

WALI SONGO

Umat islam indonesia memang khas.selalu mencari-cari tokoh panutan.tetapi, sering lupa pada tokoh yang paling layak menjadi panutan: Nabi Muhammad.Pada diri walisongo pun, sebetulnya amat banyak keteladanan yang layak di ikuti. tetapi sebagian dari kita justru menjadikan mereka sebagai tokoh dongeng.

SEBAGIAN dari kita menganggap mereka adalah tokoh-tokoh yang luar biasa. Saking luar biasannya sampai -sampai tak mungkin diteladani.kita juga sampai pada tahap pemikiran bahwa para wali itu masih mampu menyelesaikan persoalan kita. jauh setelah mereka meninggal.padahal yang semestinya terjadi adalah, menyelesaikan dengan cara meniru cara penyelesaian mereka. bukan dengan cara mendatangi merekauntuk meminta berkah, hingga tuntas masalah rezeki , utang piutang, jodoh, dan persoalan bangsa

Buktinya makam mereka penuh dengan para peziarah, menjelang masuk bulan ramadhan dan selama ramadhan.gelombang pziarah semakin banyak, seolah tak terputus sepanjang siang dan malam,dua puluh empat jam. bahkan ada yang menganggap ziarah ke makam para wali selama bula ramadhan ritual ziarah yang harus ditunaikan

Islam sendiri tidak melarang ziarah kubur, sebab dengan itu kita senantiasa ingat akhirat. Ingat suatu saat kita juga akan mati.Namun berziarah ke Makam orang-orang saleh seperti para wali ini memang rawan untuk akidah.Sebab bisa mengundang orang untuk berbuat syirik atau menyekutukan ALLAH SWT. Ini bisa kita buktikan dengan melihat ulah para peziarah dimakam para wali.

Nabi Muhhamad sendiri pernah melarang umatnya melakukan ziarah kubur. Larangann itu berlaku saat umatnya belum mantap. Namun kemudian beliau mengijinkan setelah dinilianya umatnya tidak mudah di timpa syirik. Rasulallah berkata ” ( semula ) aku melarangmu ziarah kubur tetapi sekarang ziarahlah” ( HR. Muslim )

Agustus 28, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Legenda Ajarkan Cinta Alam

Banyak tempat wisata di nusantara ini yang memiliki legenda. kalau dikaji, legendalegenda itu adalah pelajaran untuk cinta alam da menjaga kelestarian lingkungan.

demikian juga gunung kerinci, menurut legenda warga sekitanya, unung tersebut dihuni 3 makhluk makhluk gaib yang usianya sudah ratusan tahun.

Masyatakat disekitar gunung kerinci mengenal ketiga makhluk gaib tersebut dengan nama mbag slamet, mbah konco, dan mbah ponco. konon ketiga makhluk itu memiliki tuga ssendiri-sendiri. salah satu orang diantaranya muncul jika ada wisatawan atau warga sekitanta mengabaikan kelestarian lingkungan.

seperti yang dialami yuda ,pendaki asal jakarta, pemuda itu langsung hilang kaena mengabaikan peringatan – peringatan yang diberikan pemandu saat mendaki gunung itu.

Sampai sekarang jaandnya belum ditemukan. untuk mengenangnya di buatla tugu yuda di puncak gunung kerinci. KH Min ketua umum perkumpulan masyarakat sekitar gunung itu, mengungkapkan bahwa mbah ponco pernah muncul dengan ” merasuki ” tubuh sesepuh mbah kadirin mei lalu. lewat mbah kadirin, mbah ponco memperingatkan masyarakat agar merambah hutan di kaki gunung.

Tindakan tersebut membuat gunung itu kepanasan karena hutan pelindungnya digunduli. itu juga akan memunculkan reaksi gunug tersebut.

Entah berkaitan atau tidak, bebrapa bulan lalu aktifitas gunung kerinci meningkat dengan memunculkan letupan letupan bola api.

[ bambang Hari c ]

Agustus 5, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Inskripsi islam tertua di dunia

Inskripsi Islam Tertua Di Indonesia

April 17, 2008 in sejarah Islam

Indonesia mengalami proses panjang sebelum terbentuk menjadi sebuah negara besar dengan mayoritas penduduknya yang beragam Islam.

Saat Wali Songo mulai menyebarkan agama Islam, lalu menggabungkan dengan tradisi setempat, asimilasi penyebaran Islam melahirkan salah satunya adalah Garebeg atau yang lebih dikenal sebagai festival tahunan Sekaten dalam rangka maulud Nabi Muhammad SAW. Keragaman ini terasa berbeda di setiap pulau, namun tetap memiliki akar satu yang cukup kuat.

Jauh sebelum itu, pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi atau duapuluh tahun wafat Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan mengirim delegasi ke China untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Selama empat tahun perjalanan, utusan Utsman ternyata sempat singgah di daerah kepulauan, tepatnya di pulau Sumatera. Kemudian Dinasti Umayyah memulai perdagangan dengan penduduk di pantai barat Sumatera. Inilah awalnya penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Sejak itu pelaut dan pedagang muslim terus berdatangan dengan membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini selain juga berdakwah. Lalu di Aceh, kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yaitu Kerajaan Pasai. Marcopolo juga pernah menyebutkan bahwa ia pernah singgah di Pasai tahun pada tahun 692 H / 1292 M di saat telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi, menuliskan berita saat ia singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M; ia menulis bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i.

Sebagai bukti penyebaran agama Islam di Indonesia, bukti tertua terdapat di Gresik, Jawa Timur yaitu kompleks makam Islam, dengan makam tertua Fathimah binti Maimun yang berusia 475H (1082 M) saat masih berdiri Kerajaan SIngasari. Dari bentuk makam ini, terlihat bahwa bentuknya bukan buatan penduduk asli, tetapi makam yang dibuat oleh para pedagang Arab.

Sampai abad ke-8 H atau 14 M, pengislaman penduduk pribumi masih berlangsung sporadis, namun pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Indonesia secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Hal ini terbukti dengan berdirinya kerajaan berlatarbelakang Islam yang kental seperti Kerajaan Ternate, Aceh Darussalam, Demak, Cirebon, Malaka. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini kebanyakan berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra-Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan cara berperang atau usaha merebut kekuasaan kerajaan yang sudah ada.

Agustus 4, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

syaikh siti jenar

Siti Jenar selama ini dikenal lebih banyak sebagai legenda, bukan tokoh sejarah. Sekian babad, serat, kitab, dan buku tentang Siti Jenar memiliki versi sendiri-sendiri mengenai sosok, ajaran, hingga akhir hayatnya yang tragis.

Konon, ia dihukum pancung, karena menyebarkan ajaran yang dianggap menyimpang, atau ia juga seorang pemimpin sebuah gerakan yang mengancam kekuasaan. Sebagai tokoh sufi, ia adalah Al-Hallaj-nya tanah Jawa—karena kematiannya persis seperti tokoh sufi Al-Hallaj yang dieksekusi di Baghdad akibat tuduhan menebarkan ajaran sesat.

Namun, ada yang memahami Siti Jenar sebagai tumbal dalam pertarungan “Islam Jawa” yang dibelanya, dengan “Islam Arab” yang dikehendaki “Dewan Wali”. Siti Jenar tetap mewariskan kontroversi hingga kini.

Agus Sunyoto, penulis buku Syaikh Siti Jenar (LKiS) sebanyak tujuh jilid, melalui 300 naskah kuno, mencoba menelusuri perjalanan ruhani, perjuangan, ajaran, konflik dan penyimpangan ajaran Siti Jenar.

Agustus 4, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

DUNIA MISTIK MISTIK ORANG JAWA

Dunia Mistik Orang Jawa September 15, 2007 in Sosial Budaya Dunia Mistik Orang Jawa Capt. R.P Suyono, LKIS, 280 Sumber: http://www.nu.or.id Sejarah adalah tapak yang seringkali harus ditengok karena dari situ kita dapat menengarai pola yang sama dari peristiwa yang berlainan dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda. Sejarah mengajak kita untuk menyadari bahwa pada akhirnya setiap peristiwa dapat tersimpan dalam benak masyarakatnya dan menjadi, tidak saja living memories, tetapi juga living traditions yang melintasi batas ruang dan waktu melalui penuturan turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sejarah juga merupakan serpihan kebenaran dan pengetahuan berserakan yang kemudian dikumpulkan, ditata ulang agar lebih bermakna dan dapat dinikmati generasi sesudahnya. Dunia Mistik Orang Jawa adalah sebuah buku karya Capt. R.P. Suyono yang mengajak kita mengarungi lorong-lorong itu. Melalui buku ini, penulis mengundang kita berperan serta dalam menapaki jejak masa lalu guna menggali dan menemukan kembali makna sebuah sejarah yang pernah ada, menjadi bagian pengalaman hidup masyarakat. Dan, pengalaman masa lampau itu adalah seputar kehidupan orang Jawa, terutama yang terkait dengan mistik yang berkembang sejak sebelum Perang Dunia Kedua. Mistik—menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia—adalah hal-hal gaib yang tidak terjangkau akal manusia, tetapi ada dan nyata. Para antropolog dan sosiolog mengartikan mistik sebagai subsistem yang ada pada hampir semua sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan kebersatuan dengan Tuhan. Mistik merupakan keyakinan yang hidup dalam alam alam pikiran kolektif masyarakat. Alam kolektif akan kekal abadi, meskipun masyarakat telah berganti generasi—kecuali jika masyarakat itu telah lenyap. Demikian pula dengan mistik orang Jawa. Keyakinan itu telah hidup bersamaan dengan lahirnya masyarakat Jawa dan diturunkan dari generasi ke generasi. Dunia mistik memang identik dengan orang Jawa. Tidak heran, kalau banyak buku, majalah, dan tayangan televisi yang berbau sihir, ilmu hitam, ataupun berbagai kejadian aneh, tayangan semacam itu langsung mendapat sambutan yang meriah dari khalayak. Mistik seakan sudah begitu kental, menyatu dengan masyarakat kita dan sulit untuk ter(di)pisahkan sama sekali. Berbagai keyakinan tentang adanya hantu, tempat keramat, azimat, dan santet masih menggelayuti benak mereka. Bahkan, ketika zaman kolonial—ketika orang Jawa sudah banyak yang menganut agama formal, seperti Islam, Hindu, dan Nasrani— pun tampaknya belum mampu menghilangkan keyakinan tentang adanya kekuatan gaib Menurut penulis, buku ini sejatinya hasil terjemahan dari karya Van Hien, seorang ahli Javanologi Belanda, berjudul De Javansche Geestenwereld (Dunia Roh Orang Jawa), yang diterbitkan setebal tiga jilid, pada sekitar tahun 1920. karena kelihaiannya menguasai bahasa Belanda, memungkinkan penulis menikmati karya yang sudah tergolong sangat langka itu. Bahkan, di negeri Belanda sendiri, buku semacam itu sudah tidak lagi beredar di pasaran, karena memang pada masa penjajahan Jepang, semua buku yang berbahasa Belanda harus dimusnahkan. Jika ada yang ketahuan menyimpannya, akan ditangkap dan dihukum oleh Polisi Rahasia Jepang. Belanda yang pernah menjajah kita selama 350 tahun ternyata tidak hanya mengeruk hasil kekayaan bumi, melainkan juga mencatat berbagai keyakinan yang berlaku di masyarakat saat itu secara detail. Pemahaman tentang keyakinan itulah yang dijadikan penjajah sebagai alat untuk menguasai kita. Kita sendiri justru tidak memiliki catatan yang memadai tentang itu. Karena itu, membaca buku ini berarti berusaha untuk tidak melupakan keyakinan itu. Apalagi masa penjajahan, yang begitu pahit, seharusnya tidak boleh kita lupakan begitu saja. Maka, kehadiran buku ini jelas dilata Dunia Mistik Orang Jawa September 15, 2007 in Sosial Budaya Dunia Mistik Orang Jawa Capt. R.P Suyono, LKIS, 280 Sumber: http://www.nu.or.id Sejarah adalah tapak yang seringkali harus ditengok karena dari situ kita dapat menengarai pola yang sama dari peristiwa yang berlainan dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda. Sejarah mengajak kita untuk menyadari bahwa pada akhirnya setiap peristiwa dapat tersimpan dalam benak masyarakatnya dan menjadi, tidak saja living memories, tetapi juga living traditions yang melintasi batas ruang dan waktu melalui penuturan turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sejarah juga merupakan serpihan kebenaran dan pengetahuan berserakan yang kemudian dikumpulkan, ditata ulang agar lebih bermakna dan dapat dinikmati generasi sesudahnya. Dunia Mistik Orang Jawa adalah sebuah buku karya Capt. R.P. Suyono yang mengajak kita mengarungi lorong-lorong itu. Melalui buku ini, penulis mengundang kita berperan serta dalam menapaki jejak masa lalu guna menggali dan menemukan kembali makna sebuah sejarah yang pernah ada, menjadi bagian pengalaman hidup masyarakat. Dan, pengalaman masa lampau itu adalah seputar kehidupan orang Jawa, terutama yang terkait dengan mistik yang berkembang sejak sebelum Perang Dunia Kedua. Mistik—menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia—adalah hal-hal gaib yang tidak terjangkau akal manusia, tetapi ada dan nyata. Para antropolog dan sosiolog mengartikan mistik sebagai subsistem yang ada pada hampir semua sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan kebersatuan dengan Tuhan. Mistik merupakan keyakinan yang hidup dalam alam alam pikiran kolektif masyarakat. Alam kolektif akan kekal abadi, meskipun masyarakat telah berganti generasi—kecuali jika masyarakat itu telah lenyap. Demikian pula dengan mistik orang Jawa. Keyakinan itu telah hidup bersamaan dengan lahirnya masyarakat Jawa dan diturunkan dari generasi ke generasi. Dunia mistik memang identik dengan orang Jawa. Tidak heran, kalau banyak buku, majalah, dan tayangan televisi yang berbau sihir, ilmu hitam, ataupun berbagai kejadian aneh, tayangan semacam itu langsung mendapat sambutan yang meriah dari khalayak. Mistik seakan sudah begitu kental, menyatu dengan masyarakat kita dan sulit untuk ter(di)pisahkan sama sekali. Berbagai keyakinan tentang adanya hantu, tempat keramat, azimat, dan santet masih menggelayuti benak mereka. Bahkan, ketika zaman kolonial—ketika orang Jawa sudah banyak yang menganut agama formal, seperti Islam, Hindu, dan Nasrani— pun tampaknya belum mampu menghilangkan keyakinan tentang adanya kekuatan gaib Menurut penulis, buku ini sejatinya hasil terjemahan dari karya Van Hien, seorang ahli Javanologi Belanda, berjudul De Javansche Geestenwereld (Dunia Roh Orang Jawa), yang diterbitkan setebal tiga jilid, pada sekitar tahun 1920. karena kelihaiannya menguasai bahasa Belanda, memungkinkan penulis menikmati karya yang sudah tergolong sangat langka itu. Bahkan, di negeri Belanda sendiri, buku semacam itu sudah tidak lagi beredar di pasaran, karena memang pada masa penjajahan Jepang, semua buku yang berbahasa Belanda harus dimusnahkan. Jika ada yang ketahuan menyimpannya, akan ditangkap dan dihukum oleh Polisi Rahasia Jepang. Belanda yang pernah menjajah kita selama 350 tahun ternyata tidak hanya mengeruk hasil kekayaan bumi, melainkan juga mencatat berbagai keyakinan yang berlaku di masyarakat saat itu secara detail. Pemahaman tentang keyakinan itulah yang dijadikan penjajah sebagai alat untuk menguasai kita. Kita sendiri justru tidak memiliki catatan yang memadai tentang itu. Karena itu, membaca buku ini berarti berusaha untuk tidak melupakan keyakinan itu. Apalagi masa penjajahan, yang begitu pahit, seharusnya tidak boleh kita lupakan begitu saja. Maka, kehadiran buku ini jelas dilatari ketakutan akan hilangnya fakta adanya suatu keyakinan yang pernah dianut oleh orang Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Supaya fakta itu tidak lenyap begitu saja, masyarakat yang melihat tayangan—paling tidak di berbagai media cetak dan elektronik selama ini—mengenai berbagai dunia mistik, dapat merunut asal-usulnya ke suatu sumber yang berakar di masyarakat kita sendiri. Dalam buku setebal 280 halaman ini termuat beragam agama dan kepercayaan, dunia roh, benda-benda magis, ritual, perhitungan waktu, ramalan Jayabaya, sampai tempat-tempat angker yang masih terdapat di Pulau Jawa sampai saat ini. Akhirnya, kehadiran buku ini menjadi begitu penting untuk dibaca siapa saja. Prestasi kesejarahan yang telah dicapai Capt R.P. Suyono dalam buku ini sungguh sayang dilewatkan. Bukan hanya sebagai kontribusi kekayaan intelektual semata. Lebih dari itu, buku ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengingatkan kembali fakta sejarah masyarakat kita, utamanya masyarakat Jawa. semoga!ri ketakutan akan hilangnya fakta adanya suatu keyakinan yang pernah dianut oleh orang Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Supaya fakta itu tidak lenyap begitu saja, masyarakat yang melihat tayangan—paling tidak di berbagai media cetak dan elektronik selama ini—mengenai berbagai dunia mistik, dapat merunut asal-usulnya ke suatu sumber yang berakar di masyarakat kita sendiri. Dalam buku setebal 280 halaman ini termuat beragam agama dan kepercayaan, dunia roh, benda-benda magis, ritual, perhitungan waktu, ramalan Jayabaya, sampai tempat-tempat angker yang masih terdapat di Pulau Jawa sampai saat ini. Akhirnya, kehadiran buku ini menjadi begitu penting untuk dibaca siapa saja. Prestasi kesejarahan yang telah dicapai Capt R.P. Suyono dalam buku ini sungguh sayang dilewatkan. Bukan hanya sebagai kontribusi kekayaan intelektual semata. Lebih dari itu, buku ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengingatkan kembali fakta sejarah masyarakat kita, utamanya masyarakat Jawa. semoga!

Agustus 4, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

RITUAL KLENIK SOEHARTO

Ritual Klenik (Mistik) Soeharto
Author: Ahmad Makki. 19 May 2007 : 2:22 am.
INOVASI BARU: Cara Modern Menjadi Penulis Hebat!

Judul Buku : Dunia Spiritual Soeharto (Menelusuri Laku Ritual, Tempat-tempat dan Guru Spiritualnya)
Penulis : Arwan Tuti Artha
Penerbit : Galang Press – Yogyakarta
Cetakan I : 2007
Tebal : 197 Halaman

Boleh dikatakan masih banyak orang yang tidak mengetahui bahwa Soeharto juga sering melakukan laku ritual (mistik) seperti halnya orang-orang Jawa pada umunya dan bangsawan Jawa pada khususnya. Sepanjang sejarah bangsa Indonesia, negeri ini memang selalu dipimpin oleh orang-orang Jawa. Masyarakat yang percaya akan dunia klenik. Bahkan warisan para leluhur orang-orang Jawa itu hingga kini masih saja dilakukan. Dari fenomena inilah sering dikenal dengan istilah kejawen.

Seorang kejawen biasanya sering melakukan ritual-ritual yang menurut logika dan eksakta sangat tidak masuk akal. Biasanya dengan mendatangi makam-makam (kuburan) orang terdahulu yang dianggap memiliki kekuatan supranatural atau keramat. Bahkan dengan melakukan puasa-puasa yang disertai berbagai syarat yang telah ditentukan oleh para nenek moyangnya.

Dan istilah pertapaan juga timbul dari ritual-ritual kejawen ini. Tujuannya tidak lain ialah untuk mendapatkan wangsit. Arahan yang harus dilakukan agar sesuai keinginan pelaku ritual yang didapatkan dengan melakukan berbagai ritual tersebut.

Buku ”Dunia Spiritual Soeharto: Menelusuri Laku Ritual, Tempat-tempat dan Guru Spiritualnya” karya Arwan Tuti Artha ini, seakan memberikan pengalaman baru akan dunia lain dalam diri Soeharto. Sebagai orang desa yang punya latar belakang budaya Jawa yang sangat kental. Penulis buku ini juga menjelajahi lika-liku perjalanan spiritual Soeharto.

Soeharto memang sosok pribadi yang dapat dihubungkan dalam wilayah kejawen. Beliau sendiri mengakui selalu ngelakoni seperti puasa dan semedi. Tak jarang Soeharto -dalam kesehariannya- juga selalu melaksanakan warisan leluhurnya untuk mengadakan selamatan-selamatan. Memang ritual semacam ini tidaklah sangat mengherankan dalam kehidupan para bangsawan Jawa terdahulu.

Bagi Soeharto, menjalankan puasa dan ritual-ritual kejawen lainnya sudah bukan hal yang baru. Mungkin lantaran inilah mengapa Soeharto dianggap ampun oleh masyarakat. Seorang yang dalam memancarkn kharisma saat memimpin bangsa ini. Tidak hanya itu, beliau dapat membangun kekuatan diri dan keluarganya dengan mudah.

Konon, Soeharto bisa mempertahankan kekuasaan selama 32 tahun lamanya, sering dikaitkan dengan faktor keberuntungan. Keburuntungan yang disebakan mau nglakoni (mengamalkan) ilmu-ilmu klenik yang telah diwariskan nenek moyangnya. Dalam ajaran klenik banyak diajarkan tentang cara menghitung hari yang tepat ketika hendak melakukan segala sesuatu. Mempertimbangkan baik-buruk. Selalu bersikap eling lan waspodo (ingat dan hati-hati) dalam menentukan masa depan dirinya.

Kesadaran diri untuk tidak melakukan tindakan secara sembrono (mengambil tindakan tanpa pertimbangan) inilah mendorong Soeharto untuk tidak terjebak pada hal-hal yang tampak menyenangkan tapi bersifat semu. Sehingga, representasi klenik dipercaya bisa memberikan arahan sekaligus solusi terhadap kehidupan yang mengalami kebuntuhan. Termasuk memprediksi nasib, beruntung tidaknya seseorang dalam menjalani kehidupan.

Melalui buku ini, Arwan Tuti Artha tidak hanya menyajikan ulasan detail tentang ajaran-ajaran yang mengandung nilai-nilai kebudayaan Jawa. Tetapi, dia juga mengungkap berbagai kisah unik dan menarik yang pernah dilakukan Soeharto selama menjabat sebagai Presiden.

Mulai dari kegemarannya menyimpan benda-benda keramat, berendam disebuah sungai yang airnya deras hingga bersemedi ditempat-tempat yang memiliki kekuatan gaib sampai mendapat wangsit yang diberikan leluhurnya melalui perantara tusuk konde yang biasanya dipakai Bu Tien (istri Soeharto). Hal ini tampaknya sangat jarang diketahui oleh khalayak umum.

Ulasan Arwan Tuti Artha mengenai kegemaran Soeharto untuk melakukan ritual-ritual klenik atau kejawen ini mestilah ada maksud dan tujuannya. Ditengarahi keinginan Soeharto sampai punya banyak kenalan dukun dan guru spiritual ini tidak lepas dari ambisinya agar tetap eksis menjadi penguasa di negeri ini. Pemimpin yang kebal dari serangan tenun dan santet selama menjalankan proses kepemimpinannya. Karena sejak awal Soeharto sudah dibekali dengan kesaktian oleh guru spiritualnya guna melindungi diri dari mara bahaya.

Akan tetapi berdasarkan pemaparan penulis, hanya satu hal yang belum sempat dilakukan oleh Soeharto. Hal yang kalau juga dilakukan oleh Soeharto, bisa jadi seumur hidup Soeharto tetap berkuasa.. Tidak hanya bisa memimpin Indonesia selama 32 tahun. Ada benarnya pula apa yang sempat diramalkan oleh Ki Ronggowarsito pada masa lalu, bahwa Indonesia bakal dipimpin seorang satrio muktiwibowo kesampar kesandung. Yakni kalau saja ritual tidur di joglangan tak terlewatkan oleh Soeharto, bisa jadi setelah 32 tahun berkuasa, Soeharto tidak akan terlunta-lunta yang pada akhirnya turun dari kursi kepresidenaan.

Tempat-tempat yang biasanya dikunjungi oleh Soeharto sebagai petunjuk spiritual, misalnya Selok. Gunung keramat yang terletak di Desa Karangbenda, Kecamatan Adipala, Cilacap. Srandi, Pohon Jambe, Sanggar Pamujan, Sanggar Palereman Kakung, Sanggar Palereman Putri dan Sanggar Supersemar. Dari tempat inilah kegiatan spiritual Soeharto berjalan, dengan tujuan ngalap berkah.

Sayangnya, penulis tidak memiliki foto-foto ekslusif Soeharto ketika sedang melalukan laku ritual di tempat-tempat itu. Tetapi, foto-foto tempat ritual Soeharto yang juga dihadirkan dalam buku ini setidaknya cukup memberikan tambahan pemahaman kepada pembaca.

Memang tidak terlalu jelas runut cerita perjalanan gamblang spiritual Soeharto digambarkan dalam buku ini. Apalagi memang buku ini meneropong sisi lain dari kehidupan seseorang. Sosok Soeharto yang selama ini selalu dilihat hanya dari segi politik dan pertahanan-keamanannya saja. Padahal Soeharto sering kali melakukan laku spiritualnya yang juga harus diketahui publik.

*) Ahmad Makki Hasan
Alumnus Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Malang, kini pegiat di Komunitas LACAK (Lingkar Cendikia Kemasyarakatan) Malang

(Tuliasan ini telah dimuat di Koran harian “Malang Post” Minggu, 18 Februari 2007)

Agustus 4, 2009 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar

Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu, kebumen.

Pndok merupakan Pondok Pesantren yang telah terhitung cukup tua keberadaannya. Karena Pondok Pesantren ini telah ada semenjak tahun 1475 M. Adapun tahun dan waktu berdirinya dapat kita ketahui diantaranya dari Prasasti Batu Zamrud Siberia (Emerald Fuchsite) berbobot 9 kg yang ada didalam Masjid Pondok Pesantren tersebut. Sebagaimana diketahui menurut keterangan yang dihimpun oleh para ahli sejarah bahwa ciri khas Pondok Pesantren yang didirikan pada awal purmulaan islam masuk di Nusantara adalah bahwa didalam Pondok Pesantren itu dipastikan adanya sebuah Masjid. Dan pendirian Masjid ini sesuai dengan kebiasaan waktu itu adalah merupakan bagian daripada pendirian sebuah Pesantren yang terkait dengannya.
Prasasti ang mempunyai kandungan elemen kimia Al, Cr, H, K, O, dan Si ini bertuliskan huruf Jawa & Arab. Huruf Jawa menandai candra sengkalanya tahun. Sedangkan tulisan dalam huruf Arab adalah penjabaran dari candra sengkala tersebut. Terlihat jelas dalam angka tanggal yang tertera dengan huruf Arabic :
“25 Sya’ban 879 H”
Ini artinya bahwa Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu resmi berdiri semenjak tanggal 25 Sya’ban 879 H atau bersamaan dengan Rabu, 4 Januari 1475 M.
Pendirinya adalah Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al_Hasani. Beliau semula merupakan seorang tokoh ulama yang berasal dari Hadharamaut, Yaman. Lahir pada tanggal 15 Sya’ban 827 H di kampung Jamhar, Syihr. Datang ke Jawa tahun 852 H/1448 M pada masa pemerintahan Prabu Kertawijaya Majapahit atau Prabu Brawijaya I (1447 – 1451). Jadi setelah 27 tahun pendaratannya di Jawa, Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani barulah mendirikan Pondok Pesantren Al_Kahfi Somalangu.
Biografi Pendiri
Nama aslinya adalah Sayid Muhammad ‘Ishom Al_Hasani. Merupakan anak pertama dari 5 bersaudara. Ayahnya bernama Sayid Abdur_Rasyid bin Abdul Majid Al_Hasani, sedangkan ibunya bernama Syarifah Zulaikha binti Mahmud bin Abdullah bin Syekh Shahibuddin Al Huseini ‘Inath.
Ayah dari Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani adalah keturunan ke-22 Rasulullah saw dari Sayidina Hasan ra, melalui jalur Syekh As_Sayid Abdul Bar putera Syekh As_Sayid Abdul Qadir Al_Jaelani Al_Baghdadi. Beliau datang dari Bagdad, Irak ke Hadharamaut atas permintaan Syekh As_Sayid Abdullah bin Abu Bakar Sakran (Al_Idrus Al_Akbar) untuk bersama – sama ahlibait nabi yang lain menanggulangi para ahli sihir di Hadharamaut. Setelah para ahli sihir ini dapat dihancurkan, para ahlibait nabi tersebut kemudian bersama – sama membuat suatu perkampungan dibekas basis tinggalnya para ahli sihir itu. Perkampungan ini kemudian diberi nama “Jamhar” sesuai dengan kebiasaan ahlibait waktu itu yang apabila menyebut sesamanya dengan istilah Jamhar sebagaimana sekarang apabila mereka menyebut sesamanya dengan istilah “Jama’ah”. Sedangkan wilayah tempat kampung itu berada kini lebih dikenal dengan nama daerah Syihr, Syihir, Syahar ataupun Syahr. Yaitu diambil dari kata “Sihir” (mengalami pergeseran bunyi dibelakang hari), untuk menandakan bahwa dahulu wilayah tersebut memang sempat menjadi basis dari para ahli sihir Hadharamaut, Yaman.
Ayah dari Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-HAsani ini akhirnya tinggal, menetap dan wafat di Palestina, karena beliau diangkat menjadi Imam di Baitil Maqdis (Masjidil Aqsha). Di Palestina beliau masyhur dengan sebutan Syekh As_Sayid Abdur_Rasyid Al_Jamhari Al_Hasani. Makam beliau berada di komplek pemakaman imam – imam masjid Al_Quds. Sedangkan 4 saudara Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al_Hasani yang lain tinggal serta menetap di Syihr, ‘Inath serta Ma’rib, Hadharamaut.
Sayid Muhammad ‘Ishom Al_Hasani semenjak usia 18 bulan telah dibimbing dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan keagamaan oleh guru beliau yang bernama Sayid Ja’far Al_Huseini, Inath dengan cara hidup didalam goa – goa di Yaman. Oleh sang guru setelah dianggap cukup pembelajarannya, Sayid Muhammad ‘Ishom Al_Hasani kemudian diberi laqob (julukan) dengan Abdul Kahfi. Yang menurut sang guru artinya adalah orang yang pernah menyendiri beribadah kepada Allah swt dengan berdiam diri di goa selama bertahun – tahun lamanya. Nama Abdul Kahfi inilah yang kemudian masyhur dan lebih mengenalkan pada sosok beliau daripada nama aslinya sendiri yaitu Muhammad ‘Ishom.
Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al_Hasani ketika berusia 17 tahun sempat menjadi panglima perang di Yaman selama 3 tahun. Setelah itu beliau tinggal di tanah Haram, Makkah. Kemudian Pada usia 24 tahun, beliau berangkat berdakwah ke Jawa. Mendarat pertama kali di pantai Karang Bolong, kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen.
Setelah menaklukan dan mengislamkan Resi Dara Pundi di desa Candi Karanganyar, Kebumen lalu menundukkan Resi Candra Tirto serta Resi Dhanu Tirto di desa Candi Wulan dan desa Candimulyo kecamatan Kebumen, beliau akhirnya masuk ke Somalangu. Ditempat yang waktu itu masih hutan belantara ini, beliau hanya bermujahadah sebentar, mohon kepada Allah swt agar kelak tempat yang sekarang menjadi Pondok Pesantren Al_Kahfi Somalangu dapat dijadikan sebagai basis dakwah islamiyahnya yang penuh barokah dikemudian hari. Selanjutnya beliau meneruskan perjalanannya ke arah Surabaya, Jawa Timur.
Di Surabaya, Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al_Hasani tinggal di Ampel. Ditempat itu beliau diterima oleh Sunan Ampel dan sempat membantu dakwah Sunan Ampel selama 3 tahun. Kemudian atas permintaan Sunan Ampel, beliau diminta untuk membuka pesantren di Sayung, Demak. Setelah pesantren beliau di Sayung, Demak mulai berkembang Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani kemudian diminta oleh muballigh – muballigh islam di Kudus agar berkenan pindah dan mendirikan pesantren di Kudus. Problem ini terjadi karena para muballigh islam yang telah lebih dahulu masuk di Kudus sempat kerepotan dalam mempertahankan dakwah islamiyahnya sehingga mereka merasa amat membutuhkan sekali kehadiran sosok beliau ditengah – tengah mereka agar dapat mempertahankan dakwah islamiyah di wilayah tersebut.
Setelah Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani tinggal di Kudus dan mendirikan pesantren ditempat itu, Sunan Ampel kemudian mengirim puteranya yang bernama Sayid Ja’far As_Shadiq belajar pada beliau di Kudus. Tempat atsar pesantren Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani di Kudus ini sekarang lebih dikenal orang dengan nama “Masjid Bubrah”. Adapun riwayat tentang “Masjid Bubrah” ini akan kita sajikan dalam bagian tersendiri.
Ketika berada di pesantren beliau ini, Sayid Ja’far As_Sahdiq sempat pula diminta oleh beliau untuk menimba ilmu pada ayah beliau yang berada di Al-Quds, Palestina yaitu Syekh As_Sayid Abdur Rasyid Al-Hasani. Oleh karena itu setelah selesai belajar di Al-Quds, Palestina atas suka citanya sebagai rasa syukur kepada Allah Swt bersama Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani, Sayid Ja’far As_Shadiq kemudian mendirikan sebuah masjid yang ia berinama “Al-Aqsha”. Oleh Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani, Sayid Ja’far As_Sahadiq kemudian ditetapkan sebagai imam masjid tersebut dan Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani kemudian pindah ke Demak guna membantu perjuangan Sultan Hasan Al-Fatah Pangeran Jimbun Abdurrahman Khalifatullah Sayidin Panatagama di Kerajaan Islam Demak.
Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani menikah di Demak pada saat usianya telah mencapai kurang lebih 45 tahun. Pada waktu putera pertamanya telah berusia kurang lebih 5 tahun, beliau bersama isteri dan puteranya itu hijrah dari Demak ke Somalangu untuk mendirikan Pesantren. Di Somalangu inilah beliau akhirnya bermukim dan pesantren yang didirikannya kemudian hari dikenal dengan nama Pesantren Al_Kahfi Somalangu.
Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al_Hasani terhitung cukup lama dalam mengasuh Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu. Yaitu berkisar mencapai 130-an tahun. Oleh karenanya jika sejarah keadaan Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu sepanjang kepengasuhan beliau dibeberkan akan menelan kisah yang cukup panjang.
Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al_Hasani wafat pada malam jum’ah, 15 Sya’ban 1018 H atau bertepatan dengan tanggal 12 November 1609 M. Jasad beliau dimakamkan di bukit Lemah Lanang, Somalangu, Kebumen. Dan beliaulah orang pertama yang dimakamkan di tempat tersebut.

PRASASTI batu zamrud warna hijau seberat 90 kilogram itu masih tersimpan di Pondok Somalangu, Desa Sumberadi, Kecamatan Kebumen. Jika angka di prasasti tahun 979 Hijriyah atau 1475 Masehi benar, pondok tersebut sudah berdiri sebelum nama Kebumen muncul.
Perkiraan berdirinya Pesantren Al Kahfi Somalangu itu diungkapkan KH Afifuddin Chanif Al Hasani atau Gus Afif (40), selaku generasi penerus keturunan ke-16 dan pengasuh pesantren tersebut, Rabu kemarin.
Dia menuturkan, dari berbagai manuskrip dan kitab-kitab kuna yang tersimpan serta risalah sejarah, daerah Kebumen kala itu (1475-an) masih berupa rawa dan hutan. Bahkan daerah Somalangu dulunya hutan lebat.
Lalu siapa sebenarnya pendiri Somalangu? Menurut Gus Afif, pendirinya tidak lain Sayid Muhammad Ishom Al Hasani atau lebih dikenal dengan nama Syekh Abdul Kahfi. Dia ulama yang berasal dari Jamhar, Hadramaut di Yaman.
Konon awalnya Syekh Abdul Kahfi yang suka mengembara dari gua ke gua (sehingga dijuluki Abdul Kahfi), kali pertama mendarat di Pantai Karangbolong. Untuk hal yang satu ini tentu perlu penelitian lagi.
Namun Gus Afif menjelaskan, setelah mendarat di Pantai Karangbolong, Abdul Kahfi berjalan ke Karanganyar. Kala itu ada kampung sudah banyak penghuninya. Ulama dari Yaman itu lalu berhasil mengislamkan salah satu resi, bernama Darapundi. Menandai pengislamaan itu, desa tersebut dinamai Desa Candi.
Abdul Kahfi berjalan ke arah timur (Kebumen) hingga bertemu dua resi lagi, yaitu Candratirto dan Danutirto. Dua resi itu pun bisa menganut Islam dan dua desa tadi kemudian dinamai Desa Candimulyo dan Desa Candiwulan yang Berlokasi dekat dengan Somalangu Desa Sumberadi.
Gus Afif menjelaskan, dari anak keturunan Abdul Kahfi banyak yang menjadi ulama besar. Abdul Kahfi sendiri adalah ulama penasihat raja Raden Fatah Demak dan pernah mewakili Sunan Ampel dalam sebuah forum ulama membahas tentang pengikut Syekh Siti Jenar.
Pondok Somalangu juga masih menyimpan tanda kenang-kenangan dari Hang Tuah, tokoh ulama keturunan Cina Melayu yang pernah datang ke Somalangu. Masih banyak kisah sejarah belum tersibak dari manuskrip dan kitab-kitab kuna karya para leluhur Somalangu.
Cagar Budaya
Muhammad Baehaqi, selaku konsultan perintisan cagar budaya itu mengakui, dari kajian beberapa ahli purbakala yang datang ke Somalangu, memang pesantren tersebut pernah menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa. Pihaknya mengusulkan agar Pesantren Somalangu berikut peninggalannya dijadikan cagar budaya religius.
Awalnya memang ada pemikiran sederhana untuk mendirikan perpustakaan dan museum. Namun melihat aset budaya dan sejarah yang tersisa, mulai kitab-kitab lama, bangunan masjid tua, kawasan pondok, ada yoni dan lingga, serta perkampungan dengan rumah-rumah penduduk berarsitektur lama, kawasan Somalangu layak menjadi cagar budaya religius.
Menurut Gus Afif, khusus peninggalan kitab-kitab kuna dan manuskrip itu jumlahnya ribuan. Baru sebagian kecil telah dibaca dan dipelajari oleh ahli dari dinas kepurbakalaan Jateng. Karena itu dibutuhkan tempat sekaligus sistem perawatan naskah-naskah kuna yang sarat dengan tinggalan sejarah itu. Tentu demi kepentingan ilmiah, wisata serta rekonstruksi sejarah.
Demikian pula Masjid Somalangu. Hampir sebagian besar bangunan masjid kuna itu masih seperti adanya. Mulai mustaka masjid, mimbar dan tiang utama. Hanya beberapa tembok dan halaman sudah direnovasi. Bangunan induk berupa saka guru dan mustaka masih asli, sebagaimana awal didirikan sekitar tahun 1475.
Sedangkan rumah pondok tempat belajar, sebagian masih menyisakan bangunan lama. Rumah panggung yang di bawahnya sekaligus ada kolam-kolam tempat wudlu pun masih tersisa. Kompleks pondok itu berjarak hanya nsekitar 1,5 kilometer dari jalan raya Kebumen-Kutoarjo.

April 6, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

tn

Dibalik Penyebaran Ajaran Sesat Amanah Keagungan Ilahi (AKI) Bandung (Bag-1)

Berawal Dari Praktek Perdukunan

Ajaran Amanah Keagungan Ilahi (AKI) Bandung diyakini memiliki anggota ratusan orang. Hal ini terlihat dari ramainya jamaah AKI saat mengikuti pengajian rutin setiap tanggal 17. Disebut-sebut bila komunitas AKI yang bermarkas di Desa Nagrak, Kec Cangkuang, Kab Bandung ini berawal dari praktek perdukunan Kurnia Wahyu selaku pimpinan AKI yang mendapat respon positif dari pasien-pasiennya. Mereka itulah yang kemudian menjadi jamaah AKI.

Ajaran sesat dan menyesatkan Amanah Keagungan Ilahi (AKI) diduga bukan saja berkembang di Bandung, tapi juga dibeberapa daerah lain. Namun Kurnia Wahyu, pemimpin AKI di Bandung menampik adanya kesamaan dan hubungan antara AKI di Bandung dengan daerah lain seperti Bekasi dan Tasikmalaya. Kurnia juga menyatakan bila AKI Tasikmalaya yang dibubarkan itu tidak berhubungan sama sekali dengan AKI yang dipimpinnya.

Ketua Pengurus Wilayah Gerakan Reformis Islam (Garis) Jawa Barat, Ustaz Suryana Nurfatwa mengungkapkan bila aliran AKI ini memiliki persamaan dengan AKI yang berkembang di Bekasi dan Tasikmalaya. Hanya saja, komunitas ini cukup cerdik menyamarkan persamaan tersebut. Caranya dengan mengganti kepanjangan AKI dengan singkatan lain. ”Walau beda singkatan tapi mereka adalah AKI yang sama,” kata Ustaz Suryana.

Sebab menurut investigasi intensif yang dilakukan Garis, komunitas AKI baik yang ada di Bekasi, Tasikmalaya, maupun Bandung, sama-sama berada di bawah naungan Yayasan Kharisma Usada Mustika. Yayasan inilah yang kini tengah dibidik Garis karena menaungi keberadaan komunitas yang sesat dan menyesatkan. ”Kami terus menerus memantau pergerakan mereka. Salah satunya dengan mendekati markas Target Operasi (TO) kita,” tutur Ustaz Suryana kepada posmo.

Di beberapa daerah, kepanjangan AKI bisa bermacam-macam. Seperti di Bekasi, AKI singkatan dari Alam Kuasa Ilahi. Di Bandung, AKI berarti Amanah Keagungan Ilahi, begitu juga di Tasik dan daerah-daerah lain. Di dalam majalah terbitan KUM, disebutkan bila perintis aliran ini adalah Aki Syamsu. Ia adalah seorang pertapa yang melanglang buana mencari jati diri. Suatu hari, Aki Syamsu Ia kemudian menemukan ritual khusus untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa.

Diduga kuat, aliran inilah yang kemudian dikembangkan di berbagai daerah, termasuk di Bandung. Aki Syamsu meninggal dunia di Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Hingga kini, makamnya masih sering dikunjungi peziarah terutama para pejabat atau petinggi aliran ini, yakni mereka yang telah mencapai derajat Nulkarim.

Praktek Perdukunan

Khusus aliran AKI di wilayah Kabupaten Bandung, sebenarnya sudah lama beroperasi dan bermarkas di Perumahan Parahyangan Kencana (Parken). Akan tetapi, masyarakat setempat tidak mencium bau kesesatan dari praktek keseharian AKI. Sebab walaupun aktivitas sehari-hari komunitas AKI di rumah bernomor 7/9 Blok C 13 tersebut sangat eksklusif, namun perilaku jamaah AKI cukup baik. Dalam arti tidak pernah memicu keonaran ataupun keresahan bagi warga sekitar.

Bahkan dalam melakukan ritual yang diduga menyesatkan itu, warga juga sama sekali tidak tahu. Sehingga kegiatan komunitas ini seolah-olah dibiarkan begitu saja. Maka tak heran bila komunitas ini terus berkembang dan jamaahnya semakin banyak. Diperkirakan baru pada Desember 2007, kegiatan sesat AKI mulai tercium. Itupun atas dasar laporan dari mantan jamaah AKI dan masyarakat yang sempat ikut ritual AKI.

Menurut hasil investigasi Garis, disimpulkan bila mudahnya perkembangan aliran AKI ini karena keahlian Kurnia Wahyu dalam memberikan layanan konsultasi spiritual alias praktek perdukunan. Kurnia Wahyu diduga kuat memiliki keahlian dalam keparanormalan sehingga tidak sedikit pasien yang datang kepadanya untuk berkonsultasi. Dan kebanyakan pasien-pasien Kurnia adalah orang-orang yang terlibat masalah dalam hidup dan kehidupannya. Semisal terbelit utang piutang, ingin kemudahan dalam bisnis, karir, jodoh dan nasib.

Kepada pasien-pasiennya yang sedang bermasalah itu, Kurnia menyisipkan muatan-muatan ajaran AKI yang dinilai menyesatkan. Misalnya ketika seseorang selalu gagal dalam hidupnya atau terbelit utang piutang, Kurnia menyatakan bila orang ini sedang menanggung dosa tujuh turunan. Sehingga akibat dosa tujuh turunan itu, maka jalan hidupnya akan senantiasa mengalami sial, apes dan tidak beruntung. Untuk itulah maka dosa tujuh turunan tersebut harus dihapus.

Nah, saat itulah pasien-pasien Kurnia yang rata-rata tengah ketiban masalah seolah terbuka mata hatinya dan tertarik untuk menghapus dosa tujuh turunan itu. Kepada pasiennya, Kurnia menyebut cara untuk menghilangkan dosa tujuh turunan tersebut dengan cara masuk ke dalam AKI dan mengikuti proses ritual di dalamnya. Dan untuk bisa diterima dalam AKI, maka seseorang harus diwarist atau dibai’at. Wejangan-wejangan spiritual dari Kurnia inilah yang bagaikan promosi dari mulut ke mulut, mulai diminati orang-orang yang terlilit masalah. EKO RISANTO (bersambung)

Januari 20, 2009 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Menengok kehidupan unik kampung kuta

NASKAH I

Menengok Kehidupan Unik Kampung kuta, Tambaksari, Kab. Ciamis, Jabar

Budaya Tabu Jadi Penjaga Kelestarian Alam

Kampung Kuta adalah dusun adat yang masih bertahan hingga kini di daerah Priangan Timur. Kampung ini terletak Desa Karangpaningal, Kec. Tambaksari, Kab. Ciamis. Kampung adat ini dihuni masyarakat yang hidup dilandasi kearifan lokal. Dengan teguhnya memegang budaya pamali (tabu), maka keseimbangan alam menjadi terjaga. Juga terpeliharanya tatanan hidup bermasyarakat.

Kampung Kuta berjarak 45 km ke arah timur dari Kota Ciamis. Saat memasuki kampung ini, rimbunnya hutan jati yang teduh sudah menghadang. Tak jauh dari situ, rumah-rumah panggung beratap ijuk terpampang di depan mata. Keadaan ini menciptakan nuansa damai dan nyaman. Belum lagi keramahan penduduknya yang murah senyum dengan naungan suhu udara yang sejuk dan segar.

Masyarakat Kampung Kuta hingga kini mampu mempertahankan warisan leluhur. Salah satu yang menonjol adalah dalam hal pelestarian hutan. Ketika hutan di daerah lain dirambah atau dijarah, warga Kampung Adat Kuta sama sekali tidak tergoda untuk melakukan hal tersebut. Bahkan mereka berusaha keras menjaga hutan sehingga tetap lestari, sekaligus mempertahankan kelestarian mata air dan pohon aren untuk sumber kehidupan mereka.

Ketua Adat Kuta, Karman mengatakan, karena budaya pamali (tabu) itulah, hutan di wilayahnya senantiasa terjaga. Luas hutan di sekitar Kampung Kuta mencapai 40 hektare. Selama bertahan-tahun, warganya tidak berani mengambil kayu dari hutan atau Leuweung Gede. “Untuk mengambil ranting saja warga tidak berani, karena hutan itu diyakini benar-benar keramat,” ujarnya.

Karena penghormatan yang tinggi terhadap hutan, warga Kampung Kuta yang hendak masuk ke kawasan hutan tidak pernah mengenakan alas kaki. Tujuannya agar hutan tersebut tidak tercemar dan tetap lestari. Oleh karena itu, kayu-kayu besar masih terlihat kokoh di Leuweung Gede. Selain itu, sumber air masih terjaga dengan baik. Di pinggir hutan banyak mata air yang bersih dan sering digunakan untuk mencuci muka. Tidak berlebihan bila pemerintah menganugerahi penghargaan Kalpataru untuk warga kampung ini karena mampu menjaga hutan.

Secara administratif, Kampung Kuta berada di wilayah Kabupaten Ciamis, Kecamatan Tambaksari, tepatnya di dalam Desa Karangpaningal. Kampung Kuta terdiri atas 2 RW dan 4 RT. Kampung ini berbatasan dengan Dusun Cibodas di sebelah utara, Dusun Margamulya di sebelah barat, dan di sebelah selatan dan timur dengan Sungai Cijulang, yang sekaligus merupakan perbatasan wilayah Jawa Barat dengan Jawa Tengah.

Untuk menuju ke kampung tersebut jarak yang harus ditempuh dari kota Kabupaten Ciamis sekitar 34 km menuju ke arah utara. Dapat dicapai dengan menggunakan mobil angkutan umum sampai ke Kecamatan Rancah. Sedang dari Kecamatan Rancah menggunakan motor sewaan atau ojeg, dengan kondisi jalan aspal yang berkelok-kelok, serta banyak tanjakan yang cukup curam. Jika melalui Kecamatan Tambaksari dapat menggunakan kendaraan umum mobil sewaan atau ojeg, dengan kondisi jalan serupa. Jika cuacanya akan turun hujan mobil sewaan tidak akan mau mengantar ke Kampung Kuta tersebut, karena kondisi jalan yang licin dan terjal, kecuali naik ojeg. EKO RISANTO

Januari 20, 2009 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar

Menengok kehidupan unik kampung kuta

NASKAH I

Menengok Kehidupan Unik Kampung kuta, Tambaksari, Kab. Ciamis, Jabar

Budaya Tabu Jadi Penjaga Kelestarian Alam

Kampung Kuta adalah dusun adat yang masih bertahan hingga kini di daerah Priangan Timur. Kampung ini terletak Desa Karangpaningal, Kec. Tambaksari, Kab. Ciamis. Kampung adat ini dihuni masyarakat yang hidup dilandasi kearifan lokal. Dengan teguhnya memegang budaya pamali (tabu), maka keseimbangan alam menjadi terjaga. Juga terpeliharanya tatanan hidup bermasyarakat.

Kampung Kuta berjarak 45 km ke arah timur dari Kota Ciamis. Saat memasuki kampung ini, rimbunnya hutan jati yang teduh sudah menghadang. Tak jauh dari situ, rumah-rumah panggung beratap ijuk terpampang di depan mata. Keadaan ini menciptakan nuansa damai dan nyaman. Belum lagi keramahan penduduknya yang murah senyum dengan naungan suhu udara yang sejuk dan segar.

Masyarakat Kampung Kuta hingga kini mampu mempertahankan warisan leluhur. Salah satu yang menonjol adalah dalam hal pelestarian hutan. Ketika hutan di daerah lain dirambah atau dijarah, warga Kampung Adat Kuta sama sekali tidak tergoda untuk melakukan hal tersebut. Bahkan mereka berusaha keras menjaga hutan sehingga tetap lestari, sekaligus mempertahankan kelestarian mata air dan pohon aren untuk sumber kehidupan mereka.

Ketua Adat Kuta, Karman mengatakan, karena budaya pamali (tabu) itulah, hutan di wilayahnya senantiasa terjaga. Luas hutan di sekitar Kampung Kuta mencapai 40 hektare. Selama bertahan-tahun, warganya tidak berani mengambil kayu dari hutan atau Leuweung Gede. “Untuk mengambil ranting saja warga tidak berani, karena hutan itu diyakini benar-benar keramat,” ujarnya.

Karena penghormatan yang tinggi terhadap hutan, warga Kampung Kuta yang hendak masuk ke kawasan hutan tidak pernah mengenakan alas kaki. Tujuannya agar hutan tersebut tidak tercemar dan tetap lestari. Oleh karena itu, kayu-kayu besar masih terlihat kokoh di Leuweung Gede. Selain itu, sumber air masih terjaga dengan baik. Di pinggir hutan banyak mata air yang bersih dan sering digunakan untuk mencuci muka. Tidak berlebihan bila pemerintah menganugerahi penghargaan Kalpataru untuk warga kampung ini karena mampu menjaga hutan.

Secara administratif, Kampung Kuta berada di wilayah Kabupaten Ciamis, Kecamatan Tambaksari, tepatnya di dalam Desa Karangpaningal. Kampung Kuta terdiri atas 2 RW dan 4 RT. Kampung ini berbatasan dengan Dusun Cibodas di sebelah utara, Dusun Margamulya di sebelah barat, dan di sebelah selatan dan timur dengan Sungai Cijulang, yang sekaligus merupakan perbatasan wilayah Jawa Barat dengan Jawa Tengah.

Untuk menuju ke kampung tersebut jarak yang harus ditempuh dari kota Kabupaten Ciamis sekitar 34 km menuju ke arah utara. Dapat dicapai dengan menggunakan mobil angkutan umum sampai ke Kecamatan Rancah. Sedang dari Kecamatan Rancah menggunakan motor sewaan atau ojeg, dengan kondisi jalan aspal yang berkelok-kelok, serta banyak tanjakan yang cukup curam. Jika melalui Kecamatan Tambaksari dapat menggunakan kendaraan umum mobil sewaan atau ojeg, dengan kondisi jalan serupa. Jika cuacanya akan turun hujan mobil sewaan tidak akan mau mengantar ke Kampung Kuta tersebut, karena kondisi jalan yang licin dan terjal, kecuali naik ojeg. EKO RISANTO

Januari 20, 2009 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar